Extremely Loud & Incredibly Close

“The wise men understood that this natural world is only an image and a copy of paradise. The existence of this world is simply a guarantee that there exists a world that is perfect. God created the world so that, through its visible objects, men could understand his spiritual teachings and the marvels of his wisdom.”
sentimentalism (11-13)
sometime last
week I discovered
outer space is a
conspiracy, but there
are stars in your eyesyou are enough
to roll between
my teeth in the
neon black fur
of night energyI want to turn
off the lights
and feel you
bristle & burn
under my fingersmaybe turn
a couple of
planets on
the axis of
your breathand wake up
on the flip
side of the
universe
next door
Please come back home
bara dalam dingin
Tugas Pengantar Hubungan Internasional
Review Buku: “International Security, Widening Security. Vol. 3, Bab 49”
Disusun oleh:
Suwandi Rojak (170120110002)
Tazkiyatun Nafsiah (170210110012)
Reyhan Fahreza (170210110028)
Dini Atika (170210110082)
Majma Albahraini (17021011090)
Nissa Keyssa (170210110096)
Nadiah Asyifah (170210110098)
Ika Praskia Luthfia (170210110108)
Dyah Ratna Sari (170210110144)
Hisardo Dagmar (170210070044)
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FakultasIlmuSosialdanIlmuPolitik
StudiHubunganInternasional
Sumedang
2012
Bab 49. Krisis Suez – Identitas Kolektif dalam Komunitas yang Demokratis
Oleh: Thomas Risse-Kappen
Untuk dapat menganalisis, mengupas dan membungkus suatu konklusi dari kasus ini, diperlukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
- Mengapa Amerika Serikat, kekuasaan adidaya pada periode muda setelah 1945 menemukan dirinya terbelit NATO dan Eropa Barat setelah empat tahun berakhirnya Perang Dunia ke-2?
- Mengapa suatu pola kerjasama berkisar dan berevolusi di dalam NATO yang bertahan tidak hanya ketika terjadi naik-turunnya Perang Dingin dan berbagai konflik antar-aliansi dari 1956 krisis Suez hingga melalui era rudal di Eropa pada tahun 1980, tetapi juga di masa berakhirnya Perang Dingin?
- Mengapa NATO menjadi institusi yang terkuat di antara yang lain setelah Perang Dingin (dibandingkan OSC, WEU, bahkan Uni Eropa CFSP)?
- Teori aliansi realis tradisional memiliki jawaban yang sederhana pada kedua pertanyaan awal: Ancaman dari Uni Soviet. Apa yang mengkonstitusi ancaman Soviet? Kekuatan/kekuasaan, ideologi, perilaku, atau ketiganya terkombinasi?
Argumentasi dalam esai ini mengandung gagasan ancaman Soviet yang perlu dibongkar dan dilalui proses jika kita ingin apa yang telah dikontribusikan pada kenaikan dan daya tahan NATO. Realisme menyediakan jawaban-jawaban potongan pertama untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Bagian Eropa Barat dan Amerika Serikat memutuskan titik-titik waktu kritis Perang Dingin dan apa yang terjadi setelahnya. Ada asal muasal dan ketahanan berlangsung NATO yang berbeda. NATO dan hubungan translantis dapat dipahami dengan lebih baik pada basis idealisme liberal republikan yang menghubungkan kebijakan domestik dengan kebijakan asing suatu negara secara sistematis. Idealisme tersebut tidak lepas dari Immanuel Kant dan Karl W. Deutsh yang membentuk federasi pasifik atau sekuritas komunitas plural.
Liberalisme dalam Kantian bagaimanapun harus dipisahkan dari penggunaan konvensional terminologinya. Liberalisme republik berkembang menjadi neoliberal institusionalisme yang mendenotasi kerjasama di bawa anarki, suatu perspektif analisis rezim yang rasionalis. Terdapat suatu interpretasi lain dari liberalisme republikan yang menekankan pada identitas kolektif dan norma perilaku yang appropriate.
Untuk mengilustrasi argumen, 1 mendiskusikan asal muasal NATO, interaksi translatis selama dua Perang Dingin utama dan krisisnya (Suez dan Cuban, ’56 dan ’62), dan persistence NATO setelah Perang Dingin
Aliansi tradisional didasarkan cara berpikir realis. Bagaimanapun, realisme tidak dapat menjelaskan secara absolut asal, pola interaksi, dan ketahanan NATO. Struktural realisme digunakan dalam menjelaskan realisme dan asal muasal NATO. Ideologi tersebut mengandung teori aliansi mengenai keseimbangan negara daripada bandwagon; bentuk aliansi dari kelemahan negara yang disatukan untuk menentang sistem anarkis internasional demi kelangsungan hidup.
Pola aliansi terus berubah karena suatu distribusi kekuatan/kekuasaan internasional yang ikut berubah. Hal ini dapat sangat dilihat dalam multipolaritas. Kekuasaan atau kekuatan-kekuatan besar tidak embutuhkan aliansi di bawah bipolaritas.
Tidak lepas dari teori Waltz atas realisme yang sulit untuk disatukan dengan sejarah NATOnya, Amerika Serikat keluar dari Perang Dunia 1 sebagai kekuasaan adi daya di sistem internasional, menikmati suatu monopoli yang mengenai sistem senjata yang maju, contohnya kekuatan nuklir. GDP Eropa Barat secara keseluruhan telah melebihi Uni Soviet. Jika kapabilitas material adalah semua yang terhitung dalam dunia politik, seseorang sudah dapat berekspektasi Eropa Barat untuk meluruskan dengan Uni Soviet daripada Amerika Serikat.
Di lain sisi, argumen dari Waltz mengatakan bahwa asumsi-asumsi aneh tertentu mengenai sebuah bipolaritas adalah sarana suatu akhir. Sementara kekuatan-kekuatan besar mungkin tidak membutuhkan aliansi untuk memastikan kelangsungan hidup. Negara-negara klien dapat menjadi suatu aset dalam kompetisi di antara dua saingan hegemonis di mana keduanya akan harus saling beradaptasi dan menghadapi satu sama lain. Dijuluki”positionalisdefensif,”merekadiharapkanuntukmempedulikankeuntungandankerugianrelatifvis-a-uis dan dapat bersaing sengit. Semakin penting keuntungan relatif, maka akusisi negara klien seharusnya semakin besar. Sebaliknya, kerugiandarisatusekutukeciltidak begitu signifikan bagi dan dibandingkan kekuatan besar. Teori ini dapat dijelaskan secara bulak-balik dengan Amerika Serikat saat Perang Dingin sebagai contoh.
Stephen Walts berkait dengan kasus ini mengajukan realisme yang menekankan pada keseimbangan ancaman daripada kekuatan dengan harapan bahwa ketidakpastian realisme struktural dapat dikurangi dengan penambahan variabel.
Negara-negara merasa terancam ketika meraka menghadapi kesatuan kekuatan yang merupakan kombinasi dari kapabilitas superior dengan kedekatan geostrategis dan kekuatan militer yang ofensif dan ideologi yang juga ofensif. Secara keseluruhan, isu-isu yang timbul berdasarkan keputusan Barat terhadap Soviet dan sebaliknya bukan mencakupi persepsi ancaman tetapi apa yang mengkonstitusikannya: Kekuatan Soviet, ideologi, perilaku, atau kombinasi ketiganya.
Pandangan Barat pada akhir 1940 dapat dijelaskan lebih baik oleh teori liberal daripada realisme. Rekening tak dapatdibedakan.
Teori realisme dapat juga digunakan untuk memprediksi ketahananNATO setelah Perang Dingin. NATO diharapkan untuk melayu pada akhir Perang Dingin. Jika kekuatan-kekuatan besar tidak membutuhkan aliansi di bawah bipolaritas untuk ketahanannya, peletakan semua akan lebih benar.
Amerika memiliki beberapa lintang mengenai bagaimana ia mendefinisi kepentingan Eropa. Semakin aktor hegemon ini dipandang, politik domestik dan struktur perlu untuk dipertimbangkan. Ranah teori liberal dalam hubungan internasional harus masuk ke dalamnya. Pendekatan liberal institusional menutup sebuah kesepakatan:
1. Agen fundamental dalam politik internasional adalah tidak lain individu yang beraksi sebagai konteks sosial, dalam bentuk pemerintahan, masyarakat domestik, atau pun hubungan internasional.
2. Kepentingan-kepentingan dan preferensi pemerintah nasional harus dianalisis sebagai hasil dari struktur domestik dan pembangunan koalisi di mana terdapat proses yang merespon pada tuntutan sosial maupun faktor eksternal, seperti struktur sistem internasional secara materil maupun sosial
3. Ide-ide, nilai, norma, dan pengetahuan – yang secara kasual pada ranah internasional bersifat konsekuensional. Lebih spesifik lagi jika mengenai atau dengan kepentingan negara, preferensi dan pilihan.
4. Institusi internasional membentuk struktur sosial politik internasional yang merepresentasi batasan-batasan dan oportunitas-oportunitas aktor pembentuk struktur sosial politik internasional.
Kant menambahkan bahwa institusi yang demokratis memiliki karakternya dengan penggerapan dan penerapan aturan hukum, respek terhadap hak asasi manusia, dll.
Penjelasan kedua berfokus pada norma-norma pemerintahan demokratis, proses pembuat kebijakan dan pengeluaran resolusi konflik yang tidak menggunakan kekerasan dan orientasi berdasarkan kompromi. Hal-hal yang medasarkannya adalah konflik politik, keadilan dan kesamarataan masyarakat, aturan mayoritas, toleransi dan hak-hak minoritas. Norma-norma ini tertanam di dalam budaya politik negara liberal dan bentuk identitas aktor politik yang melalui proses sosialisasi, komunikasi, dan pengundangan. Dasar norma dan identitas sebagai akuntan ini tampaknya menyediakan pemahaman lebih baik mengapa pemerintahan demokratis menahan diri dari kekerasan ketika mengatasi para demokrat.
Republik domestik yang menyandar pada suatu keprihatinan kemudian melanjutkan kebijakan agar sama-sama konsensual, pantas untuk menerima akomodasi.Identitas Kolektif ditunjukkan oleh sikap responsif simpati yang mutual, loyal, percaya, dan considerate.
Eropa mempengaruhi kebijakan politik Amerika Serikat. Selama Perang Korea contohnya, norma-norma konsultasi seluruhya berdampak perlahan pada lokalisasi dan ekstensinya ke Cina. Tidak digunakannya persenjataan nuklir dan konklusi yang merujuk pada negosiasi. Hubungan translantik antar negara tidak dapat dikonseptualisasi. Pola interaksinya signikan dan dipengaruhi proses pembangunan koalisi. Krisis Kuba jatuh sangat serius bagi Amerika karena adanya konfrontasi Perang Dingin. Kebijakan-kebijakan Amerika Serikat selama krisis tidak dapat dijelaskan tanpa referensi sekuritas komunitas translatik.
Udah diganti. kata ‘yoga’nya. I’ve chosen. No, I was chosen. All doors closed except for one who came to my house the other night.
"…Terdengar begitu tidak adil, bukan? Penggunaan sesuatu secara berlebih akan melampaui batas indikator peran yang dipegang penggunaan tersebut. Bukan kah kelebihan suatu penggunaan dalam suatu ruang lingkup mempersempit keluangan dan memperbesar tekanan? Apa yang terjadi dengan objek-objek di dalamnya? Tidak kah subjek yang ditekan merasa tertekan? ….Benar dan salah, baik dan buruk di sini sulit untuk diidentifikasi. Apakah hak-hak yang bahkan tidak disadari karena invisibilitasnya dari terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan lain pantas untuk diperjuangkan di bawah kondisi yang masih layak dibilang stabil? ‘Kesejahteraan’ yang masih dan tengah dipertahankan?…"
A week of contemplation: the art of hegemony :)
I spent my birthday as a shadow delegate for Short Diplomatic Course, Revolution 2012. Coupled with Putri D, I was United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland. As always, my apathy is the cause of my unwillingness to participate in organizational events such as these. No, well, it’s actually just for the sake of my comfort. I learned a lot. A whole lot.
I was always never much expressive, because once I am, my emotions tend to flood a whole room. And it is, very dangerous. Through the process of making a resolution, the debate was very intense. At some aspects, for some reason, I feel hated, as always. Aku yang ngotot dengan argumentasi yang sulit dimengerti. Tapi itu tidak penting, self-pity. :)
I decided to be all spiritual in the end, so I came out with this conclusion:
Maybe it’s not about the material form of appreciation, the public de facto, maybe it’s about self fulfillment. The price of simple laughs, of moral contribution, effort of self actualization in an expression other than the move of burning ambition. Maybe things are better when it is found within the silence of contemplation. Here is my confession. Here is my humbleness. From my weaknesses and lacking ability of working in groups. I leave my gaps unexplained, because I no longer need to justify.
Yep. Typical. Next time I will make sure to be less idealistic and more cooperative. ;) :p
And if one asks why am I doing all this (all that I’ve done), pertanyaan dalam benak saya cuman satu sih, sebenernya: untuk apa?
______________________________________________________________
***I’d like to thank each one of those who granted me a birthday wish. All the mentions on Twitter, comments on Facebook, text messages, rows of emoticons on BBM (and three display pictures of me without my veil!)
For Stanijuanita Marantika and Tazkiyatun Nafsiah, who brought a birthday cake with my name on it, and a group of friends consisting (not in any particular order) Rahman Saleh, Toga Malau, Shinta PS, Sarah Anindita, Novi Ariyanti, Reyhan Fahreza, Jamal Baziad, Sutrisna Adi. Also for Putri D, Maleakhi M. S., and Viddy Naufal who beared my complexity and exhaustion through the course.
Might not be the fun-est memory. But melancholic me, I never felt more appreciated. :)
*****Oh and one more thing, even if my mind was blocked when I got the chance to speak and announce one of the honorable mention (only delivered four lines or so LOL). The kids were brilliant! They have this fluency, their speeches was :D:D:D:D:D. Here’s my payment of guilt: yes, all of them were influential. They were all smart, I talked to some and they had this confidence, way of delivering, awesome ideas. But to the Holy See, I wanted to say we adored your articulation, charm, and persistence :D :)